Catatan Kedepalan Puluh Sekolah

Cuaca berkabut dan mendung cenderung gerimis menyertai pagi ini. Hal yang terjadi dua hari terakhir. Pagi-pagi sekali saya pergi ke kampung dengan berkendara motor. Sesampai di kampung memarkir kendaraan dibawah pohon durian, tepat di depan rumah Sapriadi, siswa kami di sekolah. 

Rencananya saya akan memperbaiki saluran air yang berakibat air tidak mengalir seharian kemarin. Saya harus berjalan kaki kebawah karena jalanan cukup licin dan tentu basah. Saya cukup cepat memperbaikinya karena setiap kali ada kejadian seperti ini kasusnya selalu sama dan tempatnya sama. Jadi tak butuh waktu lama untuk bisa saya atasi. 

Lalu pulang dan segera mandi. Apalagi pembelajaran harus segera dilakukan. Cuaca masih mendung dan cenderung akan hujan. Tak lama setelahnya sekolah mulai berkabut dan gelap. Lalu turun hujan. 

Kembali ke ruang guru lalu melanjutkan bacaan yang sudah lama abai. Judulnya Rumah Kopi Singa Tertawa. Buku fiksi yang cukup seru. Saya begitu serius membaca buku ini dan sebagai buku fiksi selalu menghadirkan cerita yang tak dibayangkan sebelumnya. Saya suka dengan judul Dosa Besar No. 14. Judul yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dan disampaikan dengan apik oleh penulisnya. Kalau mau lebih jelasnya saya punya bukunya. Silakan dibaca.

Judul berikutnya yang menarik adalah judul dari novel itu sendiri Rumah Kopi Singa Tertawa. Cerita berlangsung dibeberapa meja dalam sebuah rumah kopi. Dengan beragam pembahasan lalu dibahas dalam dua bagian. Pokoknya keren buku ini. 
Bulo, 22/2/2021

Muhammad Suaib Natsir
Muhammad Suaib Natsir Penyuka berat PSM Makassar, sehari-hari bertugas di SMPN 6 Satap Maiwa. Warga Enrekang

Post a Comment for "Catatan Kedepalan Puluh Sekolah"